Showing posts with label FAKTAISLAM. Show all posts
Showing posts with label FAKTAISLAM. Show all posts

SEMPATKAN MEMBACA INI, MUDAH MUDAHAN HATIMU TERGERAK..



Benarkah kalender Islam tidak sampai 1500 H ??? Padahal
sekarang sudah 1438 H. Ini kajiannya :
Tidak terasa kita hidup dipenghujung Jaman.
Rasul SAW Berkata :
_Jaman itu dibagi 5_
_1. Jaman Nubuwwah_
(Jaman kenabian diawali dr Jaman Nabi Adam AS sampai
Baginda Nabi Muhammad SAW)
_2. Jaman Khilafah l_
(dipimpin sahabat -sahabat Nabi Abu Bakar Umar, Utsman
dan Ali ra).
_3. Jaman Al-mulk kerajaan_
(berakhir runtuhnya Dinasti Utsmani diturki kalau diindonesia
Majapahit, Sriwijaya, Galu dsbnya).
_4. Jaman Jababiro_
(Jaman kebebasan maksiat dimana-mana dan kita hidup di
Jaman ini).
Fitnah2 bertebaran untuk melemahkan kaum Muslimin (era
fitnah terbesar akan terjadi saat Dajjal muncul), Org2 yg tdk
cakap/dzolim menjadi penguasa (pemimpin), jumlah ummat
Islam banyak ttp bagaikan buih diatas laut (sedikit yg
berjihad untuk membela Islam)... -->
*_Jaman ini sdh terjadi dan sdg kita jalani..._*
*_Astaghfirullah....._*
_5. Jaman Khilafah ll_
(Jaman yg mana suasana seperi pada Jaman Rosululloh
SAW, nanti umat Islam akan dipimpin *_Imam Mahdi hanya
berlangsung lebih kurang 9 tahun._*
_Pada Jaman ini pula Dajjal muncul, Nabi Isa AS jg muncul
ditugaskan untuk membunuh Dajjal dan meng-Islamkan
orang2 Kafir/Nashoro)._
Para Ulama hadits memprediksi ttg usia umur ummat Islam :
_1. Ibnu Hajar Asqalani_
seorang ulama pakar hadits, kitab beliau yg populer
diindonesia adalah Fathul Barri Beliau berkata umur umat
Islam sampai 1476 H.
_2. Imam As-syuyuthi_
Beliau mengatakan umur umat Islam sampai 1477 H
*_3. Ibnu Hajar Hambali_*
kata Beliau umur umat Islam lebih dari 1400 H namun tdk
sampai 1500 H
Allahu Akbar sekarang umur umat Islam sudah sampai pada
1437 H.
*_Hari kiamat tdk ada yg tau termasuk Rosululloh SAW
namun mengenai umur umat Islam, Rasulullah sdh memberi
bocoran tdk sampai 1500 H._*
Kelak diakhir jaman Alloh SWT akan wafatkan serentak umat
islam dimuka bumi dan yg tersisa hanyalah orang kafir yg
akan menyaksikan hancurnya bumi gunung laut langit dan
seluruh alam (baca Al-Qoriah, Al-Qiyamah, Al-Waqiah).
Diantara tanda kiamat kata Rasulullah SAW akan muncul
Dukhan (kabut hitam) yg menyelimuti bumi selama 40 hari 40
malam, lalu sahabat bertanya Ya Rasulullah kapan itu
terjadi???
Kata Baginda Nabi SAW itu terjadi apabila yg
- pertama KALAU PENYANYI WANITA BERMUNCULAN DIMANA-
MANA
- Yg kedua kata Rasulullah SAW, kalau alat musik dicintai oleh
umatku dan minuman keras dimana-mana....
*_Saudaraku,... tanda2 diatas sudah muncul semua
sekarang.......... ._*
*_Mumpung masih ada waktu, mari segera benahi diri,
perbaiki kualitas ibadah dan perbanyak amal sholih untuk
bekal di akherat nanti...._*
Wallahu'alam....
*Sudah Siapkah...*
Note:
Kajian ilmiah seluruh Pakar Iptek di timur n barat sdh 100%
membenarkan Peringatan Rasulullah 14 abad yg lalu...! n
janji Allah pasti benar n tepat...!
BADAN Meteorologi dan Geofisika menyatakan bahwa akan
terjadi kemarau panjang yang akan melanda dunia.
Diperkirakan kemarau panjang tersebut akan dimulai tahun
2019 hingga 2022. Cadangan air dunia saat ini hanya tersisa
3% saja.
Lalu apa artinya informasi ini bagi kita?
Artinya adalah *_keluarnya Dajjal telah sangat dekat._*
*_Dan munculnya Imam Mahdi telah berada di tengah-
tengah kita, tanpa kita sadari._*
Ini berarti apa yang disabdakan Rasulullah telah terbukti.
Dalam hadits tentang kisah Tamim Ad-Dari, keluarnya Dajjal
di tandai dengan keringnya danau Thabariyyah (Tiberias),
keringnya mata air Zughar, dan pohon kurma Baisan tidak
berbuah lagi. Dan jika kita mengikuti perkembangan
informasi terakhir tentang tiga pertanda tersebut, sudah
nyata terjadi.
Sudah dua tahun ini, pohon kurma di Baisan tidak berbuah
lagi.
Diikuti dengan semakin minusnya mata air Zughar. Dan yang
paling mencengangkan adalah surutnya air di danau Tiberias
di Israel sudah sangat mengkhawatirkan.
Sedemikian, sehingga pemerintah Israel sibuk mencari
sumber air lain.
Salah satunya perencanaan penyulingan air laut. Dalam
hadits lain dikatakan bahwa Dajjal akan keluar dari
sarangnya ditandai setelah terjadi kemarau dan kekeringan
selama kurun 3 tahun. Dan sebagaimana disebutkan di atas,
bahwa Badan Meteorologi dan Geofisika telah
memperkirakan kekeringan panjang akan dimulai tahun
2019 hingga 2022.
Jika di antara kita ada yang pernah berhaji dari tahun 2011,
2012, 2013, 2014, maka insya Allah pernah berjumpa dengan
“calon Imam Mahdi” di dekat Ka’bah. Dan hanya orang-orang
khusus saja yang mengetahui tanda tandanya. Dan
kemunculan Imam Mahdi ini seperti yang pernah di
nubuwahkan oleh Rasulullah adalah ditandai wafatnya Raja
yang namanya bermakna nama hewan.
Bisa jadi ia adalah Raja Fahd (Fahd: singa). Setelah itu terjadi
perselisihan. Dan naik tahta raja yang banyak dosa,
kemudian meninggal, kemudian muncul raja yang baik. (Bisa
jadi ia adalah Raja Salman). Wallahu a’lam.
Di masa atau setelah masa pemerintahan Raja Salman inilah
terjadinya pembai’atan atas Imam Mahdi. Dari pertanda
ayat-ayat qauniyah tersebut, kesimpulannya adalah akhir
dari fananya dunia ini sudah demikian dekat.
Marilah kita berbuat baik semaksimal mungkin, dan ajaklah
setiap berjumpa sesama muslim dimanapun, untuk semakin
bersungguh-sungguh memperbanyak amal akhirat.
*ALLAHU AKBAR... !!!*
*_Kiamat menurut Agama Islam ditandai dengan beberapa
petanda. Kita boleh baca novel sampai beribu2 kali tapi baca
ini hanya perlu 5 menit_*
- Kemunculan Imam Mahdi
- Kemunculan Dajjal
- Turunnya Nabi Isa (AS)
- Kemunculan Yakjuj dan Makjuj
- Terbitnya matahari dari Barat ke Timur
- Pintu pengampunan akan ditutup
- Dab'bat al-Ard akan keluar dari tanah & akan menandai
muslim yang se-benar2nya
- Kabut selama 40 Hari akan mematikan semua orang
beriman sejati shg mereka tidak perlu mengalami tanda2
kiamat lainnya
- Sebuah kebakaran besar akan menyebabkan kerusakan
- Pemusnahan/runtuhnya Kabah
- Tulisan dalam Al-Quran akan lenyap
- Sangkakala akan ditiup pertama kalinya membuat semua
makhluk hidup merasa bimbang dan ketakutan
- Tiupan sangkakala yang kedua kalinya akan membuat
semua makhluk hidup mati dan yg ketiga yang membuat
setiap makhluk hidup bangkit kembali
Nabi MUHAMMAD SAW telah bersabda:
"Barang siapa yg mengingatkan ini kepada orang lain, akan
Ku buatkan tempat di syurga baginya pada hari penghakiman
kelak"
Kita boleh kirim ribuan bbm mesra, promote, bc yang terlalu
penting tapi bila kirim yang berkaitan dengan ibadah mesti
berpikir 2x.
Allah berfirman : "jika engkau lebih mengejar duniawi
daripada mengejar dekat denganKu maka Aku berikan, tapi
Aku akan menjauhkan kalian dari syurgaKu"
Itulah yg dimaksud dajjal yg bermata satu: Artinya hanya
memikirkan duniawi drpd akhirat.
Kerugian meninggalkn sholat :
Subuh: Cahaya wajah akan pudar.
Zuhur: Berkat pendapatan akan hilang.
Ashar: Kesehatan mulai terganggu.
Maghrib: Pertolongan anak akan jauh di akhirat nanti.
Isya': Kedamaian dlm tidur sukar didapatkan.
Sebarkan dgn ikhlas. tiada paksaan dalam agama
Niatkan ibadah (sebarkan ilmu walau 1 ayat)
Nasihat Kubur:
1). Aku adalah tempat yg paling gelap di antara yg gelap,
maka terangilah .. aku dengan TAHAJUD
2). Aku adalah tempat yang paling sempit, maka luaskanlah
aku dengan berSILATURAHIM ..
3). Aku adalah tempat yang paling sepi maka ramaikanlah
aku dengan perbanyak baca .. AL-QUR'AN.
4). Aku adalah tempatnya binatang2 yang menjijikan maka
racunilah ia dengan Amal SEDEKAH,
5). Aku yg menyempitmu hingga hancur bilamana tidak
Sholat, bebaskan sempitan itu dengan SHOLAT
6). Aku adalah tempat utk merendammu dgn cairan yg sangat
amat sakit, bebaskan rendaman itu dgn PUASA..
7). Aku adalah tempat Munkar & Nakir bertanya, maka
Persiapkanlah jawabanmu dengan Perbanyak mengucapkan
Kalimah "LAILAHAILALLAH"
Kirim ini semampumu dan seikhlasmu kepada sesama
Muslim, sampaikanlah walau hanya pada 1 org..
Karena, saat kamu membawa Al-Qur'an, setan biasa2 saja.
Saat kamu membukanya, syaitan mulai curiga.
Saat kamu membacanya, ia gelisah.
Saat kamu memahaminya, ia kejang2.
Saat kamu mengamalkan Al-Qur'an dlm kehidupan seharI-
hari, ia stroke.
Trus n trus baca & amalkan agar syaitan stroke semuanya
juga jantungnya dan mati.
Ketika anda ingin menyebarkan .. ini, lagi2 syaitan pun
mencegahnya.
Syaitan berbisik;
*Sudahlaaaaaah tak usah disebarkan, tak penting, buang
waktu saja, tak mungkin akan dibaca*
Sekecil apapun amal ibadah, Allah SWT menghargainya ..
Yang men-share ini...... Semoga menjadi amal. Aamiin

HAL YANG DITAKUTKAN DI INDONESIA, PERGINYA ISLAM??




ISLAM AKAN PERGI DARI INDONESIA...

AKANKAH INI TERJADI ??? MENGAPA BISA??


Oleh: Nazarullah, S.Ag, M.Pd *

Saya Pernah Membaca dari Buku Sejarah yang Menjelaskan Bahwa, Islam Pernah Jaya di Andalusia (Spanyol). Karena Ummat Islam Tidak Menjaganya dengan Baik, Akhirnya Islam di Andalusia Hilang dan Andalusia Jatuh Ke Tangan Orang-Orang Nasrani.

Sejarah Juga Mencatat Bahwa, Islam Pun Pernah Jaya di Turki. Tapi Lagi-Lagi Islam Minggat Dari Turki, karna Bangsa Turki Tidak Pandai Mengurusnya.

Muslim Philipina Pernah 100%, Saat ini Hanya Tinggal 2% Saja.

Penduduk Muslim Singapora dalam Catatan Sejarah Mencapai 93%, Sekarang hanya Tinggal 15%.

Saya Merasa Khawatir, Penduduk Indonesia yang Pernah Mencapai 95%, 10 Atau 15 Tahun Lagi Entah Akan Tinggal Berapa Persen Lagi?

Akankah Islam Malah Akan Hilang Dari Indonesia?

Wahai Ummat Islam Indonesia. Bila NKRI ini yang Berpenduduk Muslim 95% Tidak Sanggup Kita Jaga, Islam Tidak Hanya Akan Hilang Dari Bumi Nusantara Ini, Tapi Malah Sejarah Kelam di Spanyol Bakal Terulang di Indonesia. Bila ini Terjadi, Sungguh sangat Pilu jika Anak-Anak Muslim Indonesia Suatu Saat akan Diberikan 3 (Tiga) Pilihan:
1. Masuk Nasrani
2. Dibunuh, Atau
3. Keluar dari Bumi Indonesia.

Ingat Wahai Saudara-Ku Muslim, "Islam Tidak Akan Pernah Musnah Dari Dunia, Tapi Islam Bisa Hilang Dari Bumi Indonesia". Lihatlah Keadaan Ummat Islam Saat ini, Rata2 Pelosok Daerah Orang-Orang Muslim Diadu Domba. Sesama Muslim Kita Saling Bermusuhan, Tapi dengan Non Muslim Kita Bela Habis-Habisan, dan Malah dengan Senang Hati Memasang Badan.

Di depan Mata Kita Hari ini, Fenomena ini Sedang Terjadi. Muslim satu Dengan Muslim Lainnya Sedang Saling Menyalahkan dan Saling Menyerang. Lihatlah Partai-Partai Yang di Dalamnya Mayoritas Muslim, Partai Muslim Pecah, Partai Muslim Kisruh, Partai Muslim Terbelah Dua. Organisasi Muslim Seperti NU, Adalah Oranganisasi yang Punya Catatan Bahwa Anggotanya Pernah Memerdeka-kan Indonesia. Tapi Saat ini Apa yang Terjadi? Satu-Satu Anggota NU "Diculik" agar Berseberangan Dengan Anggota NU Lainnya. Miris, Anggota NU yang Di "Culik" ini, Terang-Terangan Membela NON MUSLIM dan Menyalahkan Ulama Muslim yang Istiqamah dengan Keislaman-nya. Ada Apa Ini ?????

Jawabannya Adalah, Islam Sedang digerogoti dari Dalam, Islam sedang Dihancurkan Melalui Tangan-Tangan Muslim itu Sendiri. Saya Merasa Khawatir, Suatu Hari Nanti, Muslim Indonesia Mati Bukan Karena Nuklir Yahudi, Muslim Nusantara Bukan Mati Karena Senjata Orang Nasrani. Tapi Muslim Indonesia Akan Musnah Karena Pertikaian dan Perang Saudara.

Wahai Saudara-Ku Seiman :
Kita Sedang diadu Domba.
Remaja Kita Sedang Diracuni Narkoba.
Partai Muslim Sedang dibagi Dua.
Organisasi Muslim dibuat Haru Hara.

Buka Mata Bukalah Telinga.
Buka Mata Hati Wahai Bangsa.
Muslim Indonesia Terbesar di Dunia.
Hindari Pertengkaran antar Sesama.
Jaga NKRI Wahai Pemuda.
Jangan dijual untuk Bangsa China.
Kita Wariskan NKRI Untuk Cucu Kita.
Karena Indonesia Warisan Kakek Kita.

PERJALANAN MASIH PANJANG , SIAPKAN BEKAL AGAR TIDAK RUGI DI PERJALANAN NANTI ...




Jangan terlalu terlena dengan dunia. Ingat bahwa dunia merupakan tabungan kita bukannya tujuan kita....
Alam Kubur

Setelah mati, perjalanan yang akan kita lalui adalah perjalanan menuju alam kubur. Alam kubur adalah tempat singgah pertama yang akan kita singgahi setelah mati.

Dialam kubur inilah, kita sebagai manusia sudah bisa tahu dimana kita akan tinggal kelak di akhirat. Karena di alam kubur orang-orang kafir, munafik, dan golongan mukmin yang berbuat dosa akan mendapatkan siksa didalamnya, inilah yang dimana siksa kubur.

Orang mukmin yang disiksa didalam kubur itu karena minimnya pengetahuan mereka tentang Allah SWT. Mereka percaya bahwa Allah adalah Tuhan mereka, namun mereka suka meninggalkan perintah-Nya tapi malah menjalankan larangan-Nya.

Kita akan berada di alam kubur hingga kita dibangkitkan kembali pada hari kebangkitan.

Hari Kebangkitan

Hari kebangkitan akan dimulai ketika malaikat Israfil meniupkan sangkakala yang menandakan kebangkita manusia dari kematiannya atas perintah dan izin Allah SWT.

Pada saat dibangkitkan dari kematian, manusia datang dengan berbondong-bondong dengan rupa dan keadaan yang berbeda-beda untuk menunggu keputusan dari pengadilan Allah.

Pada saat itu, kita akan diadili dalam pengadilan yang seadil-adilnya, karena sekecil apapun kebaikan atau kejahatan akan mendapatkan balasannya disana.

Padang Mahsyar

Padang Mahsyar adalah dataran yang sangat luas tempat berkumpul para makhluk pertama, hingga makhluk yang terakhir hidup. Dataran Mahsyar berada di alam akhirat, dan dikatakan berpasir, tidak terlihat tinggi maupun rendah.

Di Mahsyar inilah semua makhluk Allah yang berada di tujuh lapis langit dan bumi termasuk malaikat, jin, manusia, binatang berkumpul dan berdesak-desakan. Setiap manusia pada hari pengadilan akan hadir di mahsyar, diiringi oleh dua malaikat, yang satu sebagai pengiringnya dan yang satu lagi sebagai saksi atas segala perbuatannya di dunia.

Hisab

Yaumul hisab atau hari perhitungan amal adalah hari dimana Allah memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya tentang amal mereka. Allah Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka." [QS. Al-Ghashiyah ayat 25-26]

Disinilah tahap yang paling menentukan nasib kita kelak, karena apabila hisab kita menunjukkan amal baik yang lebih tinggi maka kita akan selamat. Namun berbeda dengan orang-orang kafir dan orang yang banyak dosanya, mereka akan celaka.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sering berdoa di dalam sholat dengan mengucapkan:

Allohumma haasibni hisaaban yasiiro (Ya Allah, hisablah diriku dengan hisab yang mudah.)

Kemudian 'Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya tentang apa itu hisab yang mudah? Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Allah memperlihatkan kitab (hamba)-Nya kemudian Allah memaafkannya begitu saja. Barangsiapa yang dipersulit hisabnya, niscaya ia akan binasa." [Diriwayatkan oleh Ahmad, VI/48, 185, al-Hakim, I/255, dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitaabus Sunnah, no. 885. Hadits ini dinilai shohih oleh al-Hakim dan adz-Dzahabi]

Melintasi Jembatan Sirath

Semua manusia akan akan melintasi jembatan ini. Jembatan Sirath adalah jembatan yang membentang di atas neraka, dan jembatan inilah jalan satu-satunya menuju surga.

Orang-orang yang memiliki amal shaleh akan dengan mudah melewati jembatan sirath ini, namun bagi mereka orang-orang kafir, mereka tidak akan bisa melewatinya dan mereka akan jatuh kedalam neraka dan mereka kekal didalamnya.

Disinilah penentuan akhirnya, yaitu surga atau neraka. Karena jika kita dapat melewatinya maka kita akan hidup di surga yang penuh dengan kenikmatan dan kekal didalamnya. Dan sebaliknya, apabila kita tidak dapat melewatinya maka kita akan menjadi penghuni neraka, Na'udzubillah.

Namun ada pendapat yang mengatakan bahwa seluruh umat mukmin akan masuk kedalam surga, namun jika mereka ada yang memiliki dosa maka dosa-dosanya akan dilebur terlebih dahulu dineraka sebelum Allah memasukkannya kedalam surga.

Semoga ini bisa menjadi bahan renungan untuk kita semua. Aamiin.

3 TANDA ALLAH MENYAYANGI KITA , JANGAN PERNAH KECEWA ATAS KASIH SAYANG NYA

Ada tiga tanda Allah menyayangi kita, salah satu nya adalah yg sering terjadi pada kehidupan kita, yaitu ........
Jangan pernah kecewa atas kasih sayang ALLAH , simak video berikut agar kalian tidak akan kecewa lagi dan suudzon kepada ALLAH ...




Mencintai dan dicintai oleh sesama manusia apalagi terhadap suami/istri, anak, serta sanak keluarga merupakan kebutuhan batin yang paling mendasar. Terlebih lagi jika kita mampu mencintai serta dicintai oleh pencipta semua makhluk di muka bumi, Allah swt.

Tak dapat dipungkiri, segala kebaikan yang Allah swt kehendaki pastilah memiliki tanda-tanda yang unik baik tersirat maupun tersurat. Begitupun tanda bahwa Allah cinta dan sayang terhadap hamba-hamba-Nya di dunia.
Terdapat tiga tanda bahwa seorang hamba mendapatkan kasih dan sayang oleh Allah swt saat berada di alam dunia. Tanda-tanda tersebut yaitu:
Pertama: Allah swt membalaskan keburukan hamba tersebut secara langsung di dunia agar nanti ia terlepas dari balasan Allah swt di akhirat.
Rasulullah saw pernah bersabda yang maksudnya: “Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seorang hamba-Nya, maka Allah akan mempercepat balasan kesalahannya di dunia. Dan sebaliknya, apabila Allah menghendaki keburukan kepada hamba-Nya maka Allah tidak membalas perbuatan dosanya di dunia hingga kelak Dia membalasnya nanti di hari kiamat.” ( HR. Tabrani )
Itulah tanda pertama yang mana Allah berikan kepada hamba kecintaan-Nya. Dia mempercepat balasan keburukan hamba-Nya tersebut agar manusia tersebut segera bertaubat dan memperbaiki kesalahan yang ia telah perbuat.


Namun sebaliknya bagi orang yang dibenci oleh Allah swt, ia akan dibiarkan saja bergelimang dalam lumpur dosa dan terus menerus bermaksiat hingga lupa dan lalai selama berada di dunia.
Oleh sebab itu, sudah sepatutnya seorang mukmin selalu menerima segala bentuk kesusahan yang ia terima di dunia dengan ikhlas dan ridha. Mungkin saja itu merupakan hukuman dari Allah swt akibat kesalahan kita sekaligus sebagai bahwa Dia mencintai hamba-Nya agar kita segera insaf dan bertaubat.
Karena sesungguhnya balasan Allah swt di dunia sangat tidak sebanding dengan balasan Allah swt di akhirat. Ketika di akhirat seorang hamba sudah tak memiliki kesempatan lagi untuk bertaubat serta balasannya pun jauh lebih dahsyat.
Ingatlah bahwa Allah swt berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 168: “Dan, Kami coba mereka dengan nikmat yang baik dan bencana yang buruk, agar mereka kembali kepada kebenaran.”
Berkaca dari firman-Nya tersebut, sudah jelas bahwa cobaan dan ujian merupakan sunnatullah yang di dalam pasti mengandung rahmat dan hikmat bagi hamba-Nya. Allah memiliki banyak cara yang berbeda-beda untuk mengembalikan hamba-Nya kembali menuju jalan lurus-Nya.
Kedua: Allah swt bukakan hatinya dan mengisinya dengan keyakinan yang kuat dan kukuh.
Rasulullah saw bersabda yang artinya:”Apabila Allah swt menghendaki kebaikan pada diri seseorang, niscaya Allah akan bukakan kunci hatinya dan mengisinya dengan keyakinan dan kepercayaan yang kukuh. Allah swt jadikan hatinya waspada akan lika-liku kehidupan yang ia jalani. Allah swt jadikan hatinya sehat sejahtera dan lidahnya berkata benar dan perilakunya lurus serta Allah swt jadikan telinganya mendengar dan matanya melihat.” ( HR Abu As Sheikh dari Abu Zarr )
Melalui hadits Nabi saw di atas sudah jelas bahwa hamba yang Allah swt bukakan hatinya ia akan memiliki tingkah laku yang lurus baik dari ucapan dan perbuatannya.
Hamba tersebut akan berhati-hati menjalani hidupnya agar tidak terpeleset ke jurang penuh dosa dengan sedapat mungkin menghindari perilaku-perilaku yang tercela. Lalu, adakah dalam diri kita ciri-ciri tersebut di atas? Jika iya, maka itulah tanda cinta Allah swt pada kita.
Ketiga: Allah swt berikan pemahaman terhadap agama Islam hingga mampu menghayati dan mengamalkannya menjadi sebuah cara hidup yang sempurna.


Rasulullah saw bersabda yang artinya:”Barangsiapa yang Allah swt kehendaki kebaikan atas dirinya, maka pastilah Allah swt anugerahkan pemahaman akan agama.” ( HR Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih Bukhari, Dar Ibn Kathir, Beirut, 1987, jilid 1, hlm. 39, no.hadits: 71 )
Apabila Allah swt kehendaki kebaikan akan seorang hamba-Nya maka Dia akan memberikan pengetahuan untuk memahami ajaran agama Islam hingga ia mampu hayati dan mengamalkannya di dalam kehidupan.
Seorang mukmin yang diberikan pemahaman tersebut tentu tidak akan pernah menjual akidahnya hanya demi kesenangan dunia yang hanya sementara saja. Hamba tersebut tak akan silau dan cinta terhadap dunia hingga melupakan bagiannya di akhirat. Justru, ia akan selalu tunduk dan patuh pada perintah Allah swt dan menjauhi larangan-Nya.
Allah swt berfirman dalam Surah Al-Maidah ayat 3 yang berarti:”Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagimu agamamu dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku padamu dan Aku telah ridhakan Islam sebagai agamamu.”
Sebagai penutup, marilah kita bermuhasabah diri kita sendiri, menatap jauh ke dalam hati dan menengok kehidupan kita selama ini. Adakah ketiga tanda tersebut di atas terdapat dalam diri dan kehidupan kita selama ini?
Jika iya, maka bersyukurlah atas nikmat cinta dari-Nya tersebut dan bersabar atas ujian dan cobaan dari-Nya untuk “menyeret” kita kembali pada jalan lurus-Nya.
Jika tidak, maka kita mesti khawatir bahwa mungkin Allah sedang murka pada diri kita. Segeralah kita bertaubat dan berdoa memohon ampunan, serta meminta petunjuk serta kasih sayangnya. Yakinlah bahwa Allah selalu menerima taubat hamba-Nya yang mau kembali pada-Nya.

SAAT PENGHUNI SURGA MELIHAT ALLAH SWT, TERNYATA AKAN TERJADI ......


Memandang Wajah Allah, Kenikmatan Tertinggi di Akhirat


Lihat video berikut ini :
















Salah satu ideologi dan prinsip dasar Ahlus sunnah wal jama’ah yang tercantum dalam kitab-kitab aqidah para ulama salaf, adalah kewajiban mengimani bahwa kaum mu’minin akan melihat wajah Allah …






Salah satu ideologi dan prinsip dasar Ahlus sunnah wal jama’ah yang tercantum dalam kitab-kitab aqidah para ulama salaf, adalah kewajiban mengimani bahwa kaum mu’minin akan melihat wajah Allah Ta’ala yang maha mulia di akhirat nanti, sebagai balasan keimanan dan keyakinan mereka yang benar kepada Allah Ta’ala sewaktu di dunia.


Imam Ahmad bin Hambal, Imam Ahlus sunnah wal jama’ah di zamannya, menegaskan ideologi Ahlus sunnah yang agung ini dalam ucapan beliau, “(Termasuk prinsip-prinsip dasar Ahlus sunnah adalah kewajiban) mengimani (bahwa kaum mu’minin) akan melihat (wajah Allah Ta’ala yang maha mulia) pada hari kiamat, sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits yang shahih”[1].


Imam Ismail bin Yahya al-Muzani berkata[2], “Penghuni surga pada hari kiamat akan melihat (wajah) Rabb (Tuhan) mereka (Allah Ta’ala), mereka tidak merasa ragu dan bimbang dalam melihat Allah Ta’ala, maka wajah-wajah mereka akan ceria dengan kemuliaan dari-Nya dan mata-mata mereka dengan karunia-Nya akan melihat kepada-Nya, dalam kenikmatan (hidup) yang kekal abadi…”[3].


Demikian pula Imam Abu Ja’far ath-Thahawi[4] menegaskan prinsip yang agung ini dengan lebih terperinci dalam ucapannya, “Memandang wajah Allah Ta’ala bagi penghuni surga adalah kebenaran (yang wajib diimani), (dengan pandangan) yang tanpa meliputi (secara keseluruhan) dan tanpa (menanyakan) bagaimana (keadaan yang sebenarnya), sebagaimana yang ditegaskan dalam kitabullah (al-Qur’an):


{وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ. إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ}


“Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat” (QS Al-Qiyaamah:22-23).


Penafsiran ayat ini adalah sebagaimana yang Allah Ta’ala ketahui dan kehendaki (bukan berdasarkan akal dan hawa nafsu manusia), dan semua hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan masalah ini adalah (benar) seperti yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan, dan maknanya seperti yang beliau inginkan. Kita tidak boleh membicarakan masalah ini dengan menta’wil (menyelewengkan arti yang sebenarnya) dengan akal kita (semata-mata), serta tidak mereka-reka dengan hawa nafsu kita, karena tidak akan selamat (keyakinan seseorang) dalam beragama kecuali jika dia tunduk dan patuh kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mengembalikan ilmu dalam hal-hal yang kurang jelas baginya kepada orang yang mengetahuinya (para ulama Ahlus sunnah)”[5].


Dasar Penetapan Ideologi Ini


1- Firman Allah Ta’ala,


{وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ، إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ}


“Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri (indah). Kepada Rabbnyalah mereka melihat” (QS al-Qiyaamah:22-23)


Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman akan melihat wajah Allah Ta’ala dengan mata mereka di akhirat nanti, karena dalam ayat ini Allah Ta’ala menggandengakan kata “melihat” dengan kata depan “ilaa” yang ini berarti bahwa penglihatan tersebut berasal dari wajah-wajah mereka, artinya mereka melihat wajah Allah Ta’ala dengan indera penglihatan mereka[6].


Bahkan firman Allah Ta’ala ini menunjukkan bahwa wajah-wajah mereka yang indah dan berseri-seri karena kenikmatan di surga yang mereka rasakan, menjadi semakin indah dengan mereka melihat wajah Allah Ta’ala. Dan waktu mereka melihat wajah Allah Ta’ala adalah sesuai dengan tingkatan surga yang mereka tempati, ada yang melihat-Nya setiap hari di waktu pagi dan petang, dan ada yang melihat-Nya hanya satu kali dalam setiap pekan[7].


2- Firman Allah Ta’ala,


{لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ}


“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala). Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya” (QS Yunus:26).


Arti “tambahan” dalam ayat ini ditafsirkan langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih, yaitu kenikmatan melihat wajah Allah Ta’ala, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling memahami makna firman Allah Ta’ala[8]. Dalam hadits yang shahih dari seorang sahabat yang mulia, Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Ta’ala Berfirman: “Apakah kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan surga)? Maka mereka menjawab: Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka? Maka (pada waktu itu) Allah Membuka hijab (yang menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai daripada melihat (wajah) Allah Ta’ala”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat tersebut di atas[9].


Bahkan dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa kenikmatan melihat wajah Allah Ta’ala adalah kenikmatan yang paling mulia dan agung serta melebihi kenikmatan-kenikmatan di surga lainnya[10].


Imam Ibnu Katsir berkata, ”(Kenikmatan) yang paling agung dan tinggi (yang melebihi semua) kenikmatan di surga adalah memandang wajah Allah yang maha mulia, karena inilah “tambahan” yang paling agung (melebihi) semua (kenikmatan) yang Allah berikan kepada para penghuni surga. Mereka berhak mendapatkan kenikmatan tersebut bukan (semata-mata) karena amal perbuatan mereka, tetapi karena karunia dan rahmat Allah” [11].


Lebih lanjut imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab beliau “Ighaatsatul lahafaan”[12] menjelaskan bahwa kenikmatan tertinggi di akhirat ini (melihat wajah Allah Ta’ala) adalah balasan yang Allah Ta’ala berikan kepada orang yang merasakan kenikmatan tertinggi di dunia, yaitu kesempurnaan dan kemanisan iman, kecintaan yang sempurna dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, serta perasaan tenang dan bahagia ketika mendekatkan diri dan berzikir kepada-Nya. Beliau menjelaskan hal ini berdasarkan lafazh do’a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang shahih,


أَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ


[As-aluka ladzdzatan nazhor ila wajhik, wasy-syauqo ilaa liqo’ik] “Aku meminta kepada-Mu (ya Allah) kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti) dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia)…”[13].


3- Firman Allah Ta’ala,


{لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ}


“Mereka di dalamnya (surga) memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami (ada) tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala)” (QS Qaaf:35).


4- Firman Allah Ta’ala,


{كَلا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ}


“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) pada hari kiamat benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka” (QS al-Muthaffifin:15).


Imam asy-Syafi’i ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata, “Ketika Allah menghalangi orang-orang kafir (dari melihat-Nya) karena Dia murka (kepada mereka), maka ini menunjukkan bahwa orang-orang yang dicintai-Nya akan melihat-Nya karena Dia ridha (kepada mereka)”[14].


5- Demikian pula dalil-dalil dari hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menetapkan masalah ini sangat banyak bahkan mencapai derajat mutawatir (diriwayatkan dari banyak jalur sehingga tidak bisa ditolak).


Imam Ibnu Katsir berkata, “(Keyakinan bahwa) orang-orang yang beriman akan melihat (wajah) Allah Ta’ala di akhirat nanti telah ditetapkan dalam hadits-hadits yang shahih, dari (banyak) jalur periwayatan yang (mencapai derajat) mutawatir, menurut para imam ahli hadits, sehingga mustahil untuk ditolak dan diingkari”[15].


Di antara hadits-hadits tersebut adalah dua hadits yang sudah kami sebutkan di atas. Demikian pula hadits yang diriwayatkan oleh Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian (Allah Ta’ala pada hari kiamat nanti) sebagaimana kalian melihat bulan purnama (dengan jelas), dan kalian tidak akan berdesak-desakan dalam waktu melihat-Nya…”[16].


Kerancuan dan Jawabannya


Demikian jelas dan gamblangnya keyakinan dan prinsip dasar Ahlus Sunnah wal Jama’ah ini, tapi bersamaan dengan itu beberapa kelompok sesat yang pemahamannya menyimpang dari jalan yang benar, seperti Jahmiyah dan Mu’tazilah, mereka mengingkari keyakinan yang agung ini, dengan syubhat-syubhat (kerancuan) yang mereka sandarkan kepada dalil (argumentasi) dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang kemudian mereka selewengkan artinya sesuai dengan hawa nafsu mereka.


Akan tetapi, kalau kita renungkan dengan seksama, kita akan dapati bahwa semua dalil (argumentasi) dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mereka gunakan untuk membela kebatilan dan kesesatan mereka, pada hakikatnya justru merupakan dalil untuk menyanggah kebatilan mereka dan bukan untuk mendukungnya[17].


Di antara sybhat-syubhat mereka tersebut adalah:


1- Mereka berdalih dengan firman Allah Ta’ala,


{وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ}


“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabb telah berfirman (langsung kepadanya), berkatalah Musa:”Ya Rabbku, nampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu”. Allah berfirman:”Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya (seperti sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata:”Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang pertama-tama beriman” (QS al-A’raaf:143).


Mereka mengatakan bahwa dalam ayat ini Allah menolak permintaan nabi Musa ‘alaihis salam untuk melihat-Nya dengan menggunakan kata “lan” yang berarti penafian selama-lamanya, ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala tidak akan mungkin bisa dilihat selama-lamanya[18].


Jawaban atas syubhat ini:


– Ucapan mereka bahwa kata “lan” berarti penafian selama-lamanya, adalah pengakuan tanpa dalil dan bukti, karena ini bertentangan dengan penjelasan para ulama ahli bahasa arab.


Ibnu Malik, salah seorang ulama ahli tata bahasa Arab, berkata dalam syairnya:


Barangsiapa yang beranggapan bahwa (kata) “lan” berarti penafian selama-lamanya


Maka tolaklah pendapat ini dan ambillah pendapat selainnya[19]


Maka makna yang benar dari ayat ini adalah bahwa Allah Ta’ala menolak permintaan nabi Musa ‘alaihis salam tersebut sewaktu di dunia, karena memang tidak ada seorangpun yang bisa melihat-Nya di dunia. Adapun di akhirat nanti maka Allah Ta’ala akan memudahkan hal itu bagi orang-orang yang beriman[20]. Sebagaimana hal ini ditunjukkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ketahuilah, tidak ada seorangpun di antara kamu yang (bisa) melihat Rabb-nya (Allah) Ta’ala sampai dia mati (di akhirat nanti)”[21].


Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu: Apakah engkau telah melihat Rabb-mu (Allah Ta’ala)? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Dia terhalangi dengan hijab) cahaya, maka bagaimana aku (bisa) melihat-Nya?”[22]. Oleh karena itulah, Ummul mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Barangsiapa yang menyangka bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melihat Rabb-nya (Allah Ta’ala) maka sungguh dia telah melakukan kedustaan yang besar atas (nama) Allah” [23].


– Permintaan nabi Musa ‘alaihis salam dalam ayat ini untuk melihat Allah Ta’ala justru menunjukkan bahwa Allah Ta’ala mungkin untuk dilihat, karena tidak mungkin seorang hamba yang mulia dan shaleh seperti nabi Musa ‘alaihis salam meminta sesuatu yang mustahil terjadi dan melampaui batas, apalagi dalam hal yang berhubungan dengan hak Allah Ta’ala. Karena permintaan sesuatu yang mustahil dan melampaui batas, apalagi dalam hal yang berhubungan dengan hak Allah Ta’ala hanyalah dilakukan oleh orang yang bodoh dan tidak mengenal Rabb-nya, dan nabi Musa ‘alaihis salam terlalu mulia dan agung untuk disifati seperti itu, bahkan beliau adalah termasuk nabi Allah Ta’ala yang mulia dan hamba-Nya yang paling mengenal-Nya[24].


Maka jelaslah bahwa ayat yang mereka jadikan sandaran ini, pada hakikatnya jutru merupakan dalil untuk menyanggah kesesatan mereka dan bukan mendukungnya.


2- Mereka berdalih dengan firman Allah Ta’ala,


{لا تُدْرِكُهُ الأبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الأبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ}


“Dia tidak dapat dicapai (diliputi) oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (QS al-An’aam:103).


Jawaban atas syubhat ini:


– Sebagian dari para ulama salaf ada yang menafsirkan ayat ini: “Dia tidak dapat dicapai (diliputi) oleh penglihatan mata di dunia ini, sedangkan di akhirat nanti pandangan mata (orang-orang yang beriman) bisa melihatnya[25].


– Dalam ayat ini Allah Ta’ala hanya menafikan al-idraak yang berarti al-ihaathah (meliputi/melihat secara keseluruhan), sedangkan melihat tidak sama dengan meliputi[26], bukankan manusia bisa melihat matahari di siang hari tapi dia tidak bisa meliputinya secara keseluruhan?[27]


– al-Idraak (meliputi/melihat secara keseluruhan) artinya lebih khusus dari pada ar-ru’yah (melihat), maka dengan dinafikannya al-Idraak menunjukkan adanya ar-ru’yah­ (melihat Allah Ta’ala), karena penafian sesuatu yang lebih khusus menunjukkan tetap dan adanya sesuatu yang lebih umum[28].


Sekali lagi ini membuktikan bahwa ayat yang mereka jadikan sandaran ini, pada hakikatnya jutru merupakan dalil untuk menyanggah kesesatan mereka dan bukan mendukungnya.


Penutup


Demikianlah penjelasan ringkas tentang salah satu keyakinan dan prinsip dasar Ahlus sunnah wal jama’ah yang agung, melihat wajah Allah Ta’ala. Dengan memahami dan mengimani masalah ini dengan benar, maka peluang kita untuk mendapatkan anugrah dan kenikmatan tersebut akan semakin besar, dengan rahmat dan karunia-Nya.


Adapun orang-orang yang tidak memahaminya dengan benar, apalagi mengingkarinya, maka mereka sangat terancam untuk terhalangi dari mendapatkan kemuliaan dan anugrah tersebut, minimal akan berkurang kesempurnaannya, na’uudzu billahi min dzaalik.


Dalam hal ini salah seorang ulama salaf berkata: “Barangsiapa yang mendustakan (mengingkari) suatu kemuliaan, maka dia tidak akan mendapatkan kemuliaan tersebut”[29].


Akhirnya kami berdoa kepada Allah Ta’ala dengan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas:


Aku meminta kepada-Mu (ya Allah) kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti)


dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia)


وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين


Kota Kendari, 12 Rabi’ul awwal 1431 H


Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA


Artikel www.muslim.or.id

[1] Kitab “Ushuulus sunnah” (hal. 23, cet. Daarul manaar, Arab Saudi).



[2] Beliau adalah imam besar, ahli fikih dan murid senior imam asy-Syafi’i (wafat 264 H). Biografi beliau dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (12/493).


[3] Kitab “Syarhus sunnah” tulisan al-Muzani (hal. 82, cet. Maktabatul gurabaa’ al-atsariyyah, Madinah).


[4] Beliau adalah Ahmad bin Muhammad bin Salaamah, imam besar dan penghafal hadits Rasulullah r (wafat 321 H). Biografi beliau dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (27/15).


[5] Kitab “Syarhul aqiidatith thahaawiyyah” (hal. 188-189, cet. Ad-Daarul Islaami, Yordania).


[6] Lihat keterangan syaikh al-‘Utsaimin dalam kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/448).


[7] Lihat keterangan syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal.899).


[8] Lihat kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/452).


[9] HSR Muslim dalam “Shahih Muslim” (no. 181).


[10] Lihat kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/453).


[11] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (4/262).


[12] Hal. 70-71 dan hal. 79 (Mawaaridul amaan, cet. Daar Ibnil Jauzi, Ad Dammaam, 1415 H).


[13] HR An Nasa-i dalam “As Sunan” (3/54 dan 3/55), Imam Ahmad dalam “Al Musnad” (4/264), Ibnu Hibban dalam “Shahihnya” (no. 1971) dan Al Hakim dalam “Al Mustadrak” (no. 1900), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al Hakim, disepakati oleh Adz Dzahabi dan Syaikh Al Albani dalam “Zhilaalul jannah fii takhriijis sunnah” (no. 424).


[14] Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam “Haadil arwaah” (hal. 201) dan Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (8/351).


[15] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (8/279).


[16] HSR al-Bukhari (no. 529) dan Muslim (no. 633).


[17] Lihat keterangan syaikh al-‘Utsaimin dalam kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/457).


[18] Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/469) dan “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/455).


[19] Dinukil oleh syaikh al-‘Utsaimin kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/456).


[20] Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 302) dan “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/456).


[21] HSR Muslim (no. 169).


[22] HSR Muslim (no. 291). waashithiyyah” (1/457).


[25] Tafsir Ibnu Katsir (3l310).


[26] Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3l310).


[27] Lihat kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/457).


[28] Ibid.


[29] Dinukil oleh imam Ibnu Katsir dalam kitab “An Nihayah fiil fitani wal malaahim” (hal. 127).





Sumber: http://muslim.or.id/2343-memandang-wajah-allah-kenikmatan-tertinggi-di-akhirat.html

Blog Archive

Powered by Blogger.

Visitor

Flag Counter