Power of "Do'a" ... Beginilah Reaksi Orang Tua di Alam Kubur Ketika Diziarahi Atau Didoakan Anaknya ..



Ziarah adalah termasuk dari ajaran Islam, karena dengan sering berziarah kubur akan berdampak pada ingat akan k3m4tian yang pasti datang, jika sering ingat mati, maka akan melembutkan hati yang berdampak pada mudah menerima nasehat dan giat ibadah
Lalu apa yang terjadi pada orang tua saat Anda berziarah ke makam mereka atau saat Anda mendoakan mereka?
Syaikh Muhammad al-Syanqithi, ulama Wahabi, berkata: “Semoga Allah mengampuni keluarga kita yang telah meninggal dunia dan kaum Muslimin yang sudah meninggal dunia. Aku tidak mampu menahan tangis melihat betapa perlunya ahli kubur pada kita. Aku terkesan dan aku ingin semuanya tahu hal ini.”
Utsman bin Sawad, ulama salaf, bercerita tentang ibunya, seorang wanita yang ahli ibadah. Saat ibunya bakal meninggal dunia, ia mengangkat pandangannya ke langit dan berkata : “Wahai tabunganku, wahai simpananku, wahai Tuhan yang selalu jadi sandaranku alam hidupku dan setelah kematiaku, jangan Engkau abaikan diriku saat m4ti, jangan biarkan aku kesepian dalam kuburku.” Kemudian ia meninggal dunia.
Aku selalu berziarah ke makamnya setiap hari Jum’at. Aku berdoa untuknya, dan memohonkan ampun baginya dan semua ahli kubur di situ. Pada satu malam aku bermimpi berjumpa dengan ibuku.
Aku berkata : “Wahai ibuku, bagaimana keadanmu?”
Ia menjawab : “Wahai anakku, sesungguhnya keematian itu yaitu kesusahan yang dahsyat. Aku alhamdulillah ada di alam barzakh yang terpuji. Ranjangnya harum, dan bantalnya terdiri dari tenunan kain sutera.”
Aku berkata : “Apakah Ibu ada keperluan kepadaku? ”
Ia menjawab : “Iya, jangan anda tinggalkan ziarah yang anda lakukan pada kami, sungguh aku sangat senang dengan kedatanganmu pada hari Jum’at saat berangkat dari keluargamu. Orang-orang bakal berkata kepadaku: “Ini anakmu telah datang.” Lalu aku merasa senang, dan orang-orang mati yang ada di sekitarku juga senang.”
Basysyar bin Ghalib, ulama salaf juga, berkata: “Aku bermimpi Robiah al-Adawiyah dalam tidurku. Aku memang selalu mendoakannya. Dalam mimpi itu ia berkata kepadaku : “Wahai Basysyar, hadiah-hadiahmu selalu sampai pada kami di atas piring dari cahaya, ditutupi dengan sapu tangan sutera.”
Aku berkata : “Bagaimana hal itu dapat terjadi?”
Ia menjawab : “Begitulah doa orang-orang yang masih hidup. Apabila mereka mendoakan orang-orang yang sudah m4ti dan doa itu dikabulkan, jadi doa itu diletakkan di atas piring dari cahaya dan ditutupi dengan sapu tangan sutera. Lalu hadiah itu diberikan kepada orang mati yang didoakan itu. Lalu dikatakan kepadanya: “Terimalah, ini hadiah si anu kepadamu.”
Seberapa sering kita berziarah ke makam orang tua, keluarga dan guru kita yang sudah meninggal dunia? Seberapa banyak kita mendoakan mereka dalam bebrapa saat kita beribadah?? Ziarah kita dan doa kita sangat utama bagi mereka.
Wallahu 'alam ...
sumber : islamidia.com

Kisah Abdullah bin Hudzafah As Sahmiy , berani menghadap Raja .....











Kisah Al Thufail Bin 'Amr Al Dausy








Kisah SAID bin 'AMIR AL JUMAHI







Kisah ANAS bin MALIK AL-ANSHARY


3 TANDA ALLAH MENYAYANGI KITA , JANGAN PERNAH KECEWA ATAS KASIH SAYANG NYA

Ada tiga tanda Allah menyayangi kita, salah satu nya adalah yg sering terjadi pada kehidupan kita, yaitu ........
Jangan pernah kecewa atas kasih sayang ALLAH , simak video berikut agar kalian tidak akan kecewa lagi dan suudzon kepada ALLAH ...




Mencintai dan dicintai oleh sesama manusia apalagi terhadap suami/istri, anak, serta sanak keluarga merupakan kebutuhan batin yang paling mendasar. Terlebih lagi jika kita mampu mencintai serta dicintai oleh pencipta semua makhluk di muka bumi, Allah swt.

Tak dapat dipungkiri, segala kebaikan yang Allah swt kehendaki pastilah memiliki tanda-tanda yang unik baik tersirat maupun tersurat. Begitupun tanda bahwa Allah cinta dan sayang terhadap hamba-hamba-Nya di dunia.
Terdapat tiga tanda bahwa seorang hamba mendapatkan kasih dan sayang oleh Allah swt saat berada di alam dunia. Tanda-tanda tersebut yaitu:
Pertama: Allah swt membalaskan keburukan hamba tersebut secara langsung di dunia agar nanti ia terlepas dari balasan Allah swt di akhirat.
Rasulullah saw pernah bersabda yang maksudnya: “Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seorang hamba-Nya, maka Allah akan mempercepat balasan kesalahannya di dunia. Dan sebaliknya, apabila Allah menghendaki keburukan kepada hamba-Nya maka Allah tidak membalas perbuatan dosanya di dunia hingga kelak Dia membalasnya nanti di hari kiamat.” ( HR. Tabrani )
Itulah tanda pertama yang mana Allah berikan kepada hamba kecintaan-Nya. Dia mempercepat balasan keburukan hamba-Nya tersebut agar manusia tersebut segera bertaubat dan memperbaiki kesalahan yang ia telah perbuat.


Namun sebaliknya bagi orang yang dibenci oleh Allah swt, ia akan dibiarkan saja bergelimang dalam lumpur dosa dan terus menerus bermaksiat hingga lupa dan lalai selama berada di dunia.
Oleh sebab itu, sudah sepatutnya seorang mukmin selalu menerima segala bentuk kesusahan yang ia terima di dunia dengan ikhlas dan ridha. Mungkin saja itu merupakan hukuman dari Allah swt akibat kesalahan kita sekaligus sebagai bahwa Dia mencintai hamba-Nya agar kita segera insaf dan bertaubat.
Karena sesungguhnya balasan Allah swt di dunia sangat tidak sebanding dengan balasan Allah swt di akhirat. Ketika di akhirat seorang hamba sudah tak memiliki kesempatan lagi untuk bertaubat serta balasannya pun jauh lebih dahsyat.
Ingatlah bahwa Allah swt berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 168: “Dan, Kami coba mereka dengan nikmat yang baik dan bencana yang buruk, agar mereka kembali kepada kebenaran.”
Berkaca dari firman-Nya tersebut, sudah jelas bahwa cobaan dan ujian merupakan sunnatullah yang di dalam pasti mengandung rahmat dan hikmat bagi hamba-Nya. Allah memiliki banyak cara yang berbeda-beda untuk mengembalikan hamba-Nya kembali menuju jalan lurus-Nya.
Kedua: Allah swt bukakan hatinya dan mengisinya dengan keyakinan yang kuat dan kukuh.
Rasulullah saw bersabda yang artinya:”Apabila Allah swt menghendaki kebaikan pada diri seseorang, niscaya Allah akan bukakan kunci hatinya dan mengisinya dengan keyakinan dan kepercayaan yang kukuh. Allah swt jadikan hatinya waspada akan lika-liku kehidupan yang ia jalani. Allah swt jadikan hatinya sehat sejahtera dan lidahnya berkata benar dan perilakunya lurus serta Allah swt jadikan telinganya mendengar dan matanya melihat.” ( HR Abu As Sheikh dari Abu Zarr )
Melalui hadits Nabi saw di atas sudah jelas bahwa hamba yang Allah swt bukakan hatinya ia akan memiliki tingkah laku yang lurus baik dari ucapan dan perbuatannya.
Hamba tersebut akan berhati-hati menjalani hidupnya agar tidak terpeleset ke jurang penuh dosa dengan sedapat mungkin menghindari perilaku-perilaku yang tercela. Lalu, adakah dalam diri kita ciri-ciri tersebut di atas? Jika iya, maka itulah tanda cinta Allah swt pada kita.
Ketiga: Allah swt berikan pemahaman terhadap agama Islam hingga mampu menghayati dan mengamalkannya menjadi sebuah cara hidup yang sempurna.


Rasulullah saw bersabda yang artinya:”Barangsiapa yang Allah swt kehendaki kebaikan atas dirinya, maka pastilah Allah swt anugerahkan pemahaman akan agama.” ( HR Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih Bukhari, Dar Ibn Kathir, Beirut, 1987, jilid 1, hlm. 39, no.hadits: 71 )
Apabila Allah swt kehendaki kebaikan akan seorang hamba-Nya maka Dia akan memberikan pengetahuan untuk memahami ajaran agama Islam hingga ia mampu hayati dan mengamalkannya di dalam kehidupan.
Seorang mukmin yang diberikan pemahaman tersebut tentu tidak akan pernah menjual akidahnya hanya demi kesenangan dunia yang hanya sementara saja. Hamba tersebut tak akan silau dan cinta terhadap dunia hingga melupakan bagiannya di akhirat. Justru, ia akan selalu tunduk dan patuh pada perintah Allah swt dan menjauhi larangan-Nya.
Allah swt berfirman dalam Surah Al-Maidah ayat 3 yang berarti:”Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagimu agamamu dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku padamu dan Aku telah ridhakan Islam sebagai agamamu.”
Sebagai penutup, marilah kita bermuhasabah diri kita sendiri, menatap jauh ke dalam hati dan menengok kehidupan kita selama ini. Adakah ketiga tanda tersebut di atas terdapat dalam diri dan kehidupan kita selama ini?
Jika iya, maka bersyukurlah atas nikmat cinta dari-Nya tersebut dan bersabar atas ujian dan cobaan dari-Nya untuk “menyeret” kita kembali pada jalan lurus-Nya.
Jika tidak, maka kita mesti khawatir bahwa mungkin Allah sedang murka pada diri kita. Segeralah kita bertaubat dan berdoa memohon ampunan, serta meminta petunjuk serta kasih sayangnya. Yakinlah bahwa Allah selalu menerima taubat hamba-Nya yang mau kembali pada-Nya.

KISAH DO'A YG LANGSUNG TERKABUL...

PERNAHKAN ANDA BERDO'A? DAN ALLAH MENGABULKANNYA SECARA LANGSUNG.... LIHATLAH VIDEO INI PASTI ANDA AKAN TERKAGUM ..




BAHWA ALLAH SELALU MEMBERI PERTOLONGAN KEPADA HAMBA NYA ..

PERANG BADAR , ALLAH SELALU MENOLONG KITA .....

313 Muslim vs 1000 Kafirin ... Mengagumkan !! ALLAH Selalu menolong hamba yang menegakkan agama- NYA.. Tonton video nya..



Badar adalah nama sebuah lembah yang terletak di antara Makkah dan Madinah. Lembah ini diapit oleh dua bukit, yaitu di timur bukitnya bernama 'Udwah al Qushwa' dan di barat bukitnya bernama 'Udwah ad Dunya'.
Di sisi selatan, Lembah Badar dibatasi oleh bukit bernama bukit 'al-Asfal'. Sejak masa sebelum Islam, lembah tersebut sudah menjadi jalur yang banyak dilintasi kafilah-kafilah dagang asal Makkah atau Yaman yang hendak berniaga ke Syam (Suriah dan Lebanon).
Tanahnya yang subur karena memiliki campuran pasir dan tanah dengan beberapa mata air di lembah tersebut membuat para kafilah bisa singgah beristirahat di lembah ini dengan nyaman. 
Saat ini, lembah badar menjadi salah satu kota yang berada di wilayah Provinsi Madinah dengan nama lengkap Kota Badar Hunain. Jarak kota ini dari Kota  Madinah mencapai sekitar 130 km.
Meski demikian, sebagian wilayah lembah yang pernah menjadi lokasi pertempuran besar, yakni Perang Badar al Qubro, masih dibiarkan menjadi padang terbuka. 
Bahkan, pada satu lokasi di lembah tersebut, terdapat bangunan tembok menyerupai benteng yang mengelilingi areal cukup luas. Lokasi itu diperkirakan menjadi tempat pertempuran sekaligus tempat dimakamkannya para syuhada yang gugur dalam Perang Badar.
Lembah Badar memang menjadi sangat dikenal dalam sejarah Islam. Tempat ini menjadi saksi suatu peristiwa besar yang menjadi tonggak sejarah tatkala pertempuran besar antara umat Islam dari Madinah dan kaum musyrikin dari Makkah terjadi. 
Pertempuran besar di lembah Badar tersebut terjadi pada 17 Ramadhan 2 Hijriyah atau 17 Maret 624 M. Perang yang juga sering disebut-sebut sebagai perang akidah ini memberikan kemenangan besar bagi kaum Muslimin.
Sebelum Perang Badar terjadi, kaum Muslim Madinah dan penduduk Makkah sebenarnya sudah beberapa kali terlibat konflik bersenjata skala kecil. Ketegangan antara kelompok masyarakat di Makkah dan Madinah ini terjadi akibat serangan umat Islam di Madinah pada rombongan dagang kaum Quraisy.
Umat Islam Madinah yang sebelumnya berasal dari kaum Quraisy Makkah berpendapat, penyerangan terhadap rombongan dagang dari Makkah sah dilakukan. Pasalnya, kaum Quraisy Makkah telah mengusir dan menjarah barang-barang yang mereka tinggalkan di Makkah.
Pada akhir tahun 623 Masehi, aksi penyerangan terhadap para pedagang Makkah ini makin sering dilakukan. Puncaknya, terjadi menjelang pertempuran Badar. Saat itu, umat Islam Madinah mendengar kabar mengenai rencana kedatangan kafilah dagang kaum Quraisy dari Syam, yang berada di bawah perlindungan pasukan Abu Sufyan bin Harb.
Mendapat informasi tersebut, sahabat Rasulullah SAW, Hamzah, meminta ijin untuk membalas perlakuan orang kafir Quraisy. Saat itulah, turun ayat 39-40 Surah Al Hajj yang memberikan ijin pada kaum Muslimin untuk berperang jika mereka dizalimi.
Mendapat wahyu ini, Rasulullah pun memimpin sendiri pasukannya untuk melakukan pengadangan. Dengan pasukan yang terdiri atas 313 orang dan 2 ekor unta, mereka menuju suatu tempat bernama Shafra ( di luar Kota Madinah).
Upaya pencegatan pasukan Muslimin ini tercium oleh Abu Sufyan, sehingga dia mengambil rute kembali ke Makkah dengan melalu jalur tepi laut. Sementara, kaum musyrikin Quraisy yang mendapat kabar rombongan Abu Sufyan dihadang pasukah Rasulullah mengirimkan bantuan dengan mengirim 1.000 orang. Pasukan ini dipimpin oleh Abu Jahal.
Rasulullah SAW dan para saha bat yang mendapat kabar Abu Sufyan sudah sampai Makkah dan kaum Quraisy mengirimkan pasukan, tidak mengurungkan perjalanan. Tapi bertekad menghadapi pasukan yang dipimpin Abu Jahal.
Keteguhan hati umat Islam untuk bertempur melawan pasukan AbuJahal yang lebih besar ini lah yang berbuah kemenang Terkait pertempuran ini, Allah ber firman.
"Sungguh Allah telah menolong kamu dalam Peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu, bertawakallah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (Ingat lah), ketika kamu mengatakan kepada orang Mukmin, Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)? Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda. 

Source : republika.co.id

SAAT PENGHUNI SURGA MELIHAT ALLAH SWT, TERNYATA AKAN TERJADI ......


Memandang Wajah Allah, Kenikmatan Tertinggi di Akhirat


Lihat video berikut ini :
















Salah satu ideologi dan prinsip dasar Ahlus sunnah wal jama’ah yang tercantum dalam kitab-kitab aqidah para ulama salaf, adalah kewajiban mengimani bahwa kaum mu’minin akan melihat wajah Allah …






Salah satu ideologi dan prinsip dasar Ahlus sunnah wal jama’ah yang tercantum dalam kitab-kitab aqidah para ulama salaf, adalah kewajiban mengimani bahwa kaum mu’minin akan melihat wajah Allah Ta’ala yang maha mulia di akhirat nanti, sebagai balasan keimanan dan keyakinan mereka yang benar kepada Allah Ta’ala sewaktu di dunia.


Imam Ahmad bin Hambal, Imam Ahlus sunnah wal jama’ah di zamannya, menegaskan ideologi Ahlus sunnah yang agung ini dalam ucapan beliau, “(Termasuk prinsip-prinsip dasar Ahlus sunnah adalah kewajiban) mengimani (bahwa kaum mu’minin) akan melihat (wajah Allah Ta’ala yang maha mulia) pada hari kiamat, sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits yang shahih”[1].


Imam Ismail bin Yahya al-Muzani berkata[2], “Penghuni surga pada hari kiamat akan melihat (wajah) Rabb (Tuhan) mereka (Allah Ta’ala), mereka tidak merasa ragu dan bimbang dalam melihat Allah Ta’ala, maka wajah-wajah mereka akan ceria dengan kemuliaan dari-Nya dan mata-mata mereka dengan karunia-Nya akan melihat kepada-Nya, dalam kenikmatan (hidup) yang kekal abadi…”[3].


Demikian pula Imam Abu Ja’far ath-Thahawi[4] menegaskan prinsip yang agung ini dengan lebih terperinci dalam ucapannya, “Memandang wajah Allah Ta’ala bagi penghuni surga adalah kebenaran (yang wajib diimani), (dengan pandangan) yang tanpa meliputi (secara keseluruhan) dan tanpa (menanyakan) bagaimana (keadaan yang sebenarnya), sebagaimana yang ditegaskan dalam kitabullah (al-Qur’an):


{وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ. إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ}


“Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat” (QS Al-Qiyaamah:22-23).


Penafsiran ayat ini adalah sebagaimana yang Allah Ta’ala ketahui dan kehendaki (bukan berdasarkan akal dan hawa nafsu manusia), dan semua hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan masalah ini adalah (benar) seperti yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan, dan maknanya seperti yang beliau inginkan. Kita tidak boleh membicarakan masalah ini dengan menta’wil (menyelewengkan arti yang sebenarnya) dengan akal kita (semata-mata), serta tidak mereka-reka dengan hawa nafsu kita, karena tidak akan selamat (keyakinan seseorang) dalam beragama kecuali jika dia tunduk dan patuh kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mengembalikan ilmu dalam hal-hal yang kurang jelas baginya kepada orang yang mengetahuinya (para ulama Ahlus sunnah)”[5].


Dasar Penetapan Ideologi Ini


1- Firman Allah Ta’ala,


{وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ، إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ}


“Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri (indah). Kepada Rabbnyalah mereka melihat” (QS al-Qiyaamah:22-23)


Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman akan melihat wajah Allah Ta’ala dengan mata mereka di akhirat nanti, karena dalam ayat ini Allah Ta’ala menggandengakan kata “melihat” dengan kata depan “ilaa” yang ini berarti bahwa penglihatan tersebut berasal dari wajah-wajah mereka, artinya mereka melihat wajah Allah Ta’ala dengan indera penglihatan mereka[6].


Bahkan firman Allah Ta’ala ini menunjukkan bahwa wajah-wajah mereka yang indah dan berseri-seri karena kenikmatan di surga yang mereka rasakan, menjadi semakin indah dengan mereka melihat wajah Allah Ta’ala. Dan waktu mereka melihat wajah Allah Ta’ala adalah sesuai dengan tingkatan surga yang mereka tempati, ada yang melihat-Nya setiap hari di waktu pagi dan petang, dan ada yang melihat-Nya hanya satu kali dalam setiap pekan[7].


2- Firman Allah Ta’ala,


{لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ}


“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala). Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya” (QS Yunus:26).


Arti “tambahan” dalam ayat ini ditafsirkan langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih, yaitu kenikmatan melihat wajah Allah Ta’ala, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling memahami makna firman Allah Ta’ala[8]. Dalam hadits yang shahih dari seorang sahabat yang mulia, Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Ta’ala Berfirman: “Apakah kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan surga)? Maka mereka menjawab: Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka? Maka (pada waktu itu) Allah Membuka hijab (yang menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai daripada melihat (wajah) Allah Ta’ala”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat tersebut di atas[9].


Bahkan dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa kenikmatan melihat wajah Allah Ta’ala adalah kenikmatan yang paling mulia dan agung serta melebihi kenikmatan-kenikmatan di surga lainnya[10].


Imam Ibnu Katsir berkata, ”(Kenikmatan) yang paling agung dan tinggi (yang melebihi semua) kenikmatan di surga adalah memandang wajah Allah yang maha mulia, karena inilah “tambahan” yang paling agung (melebihi) semua (kenikmatan) yang Allah berikan kepada para penghuni surga. Mereka berhak mendapatkan kenikmatan tersebut bukan (semata-mata) karena amal perbuatan mereka, tetapi karena karunia dan rahmat Allah” [11].


Lebih lanjut imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab beliau “Ighaatsatul lahafaan”[12] menjelaskan bahwa kenikmatan tertinggi di akhirat ini (melihat wajah Allah Ta’ala) adalah balasan yang Allah Ta’ala berikan kepada orang yang merasakan kenikmatan tertinggi di dunia, yaitu kesempurnaan dan kemanisan iman, kecintaan yang sempurna dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, serta perasaan tenang dan bahagia ketika mendekatkan diri dan berzikir kepada-Nya. Beliau menjelaskan hal ini berdasarkan lafazh do’a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang shahih,


أَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ


[As-aluka ladzdzatan nazhor ila wajhik, wasy-syauqo ilaa liqo’ik] “Aku meminta kepada-Mu (ya Allah) kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti) dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia)…”[13].


3- Firman Allah Ta’ala,


{لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ}


“Mereka di dalamnya (surga) memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami (ada) tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala)” (QS Qaaf:35).


4- Firman Allah Ta’ala,


{كَلا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ}


“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) pada hari kiamat benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka” (QS al-Muthaffifin:15).


Imam asy-Syafi’i ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata, “Ketika Allah menghalangi orang-orang kafir (dari melihat-Nya) karena Dia murka (kepada mereka), maka ini menunjukkan bahwa orang-orang yang dicintai-Nya akan melihat-Nya karena Dia ridha (kepada mereka)”[14].


5- Demikian pula dalil-dalil dari hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menetapkan masalah ini sangat banyak bahkan mencapai derajat mutawatir (diriwayatkan dari banyak jalur sehingga tidak bisa ditolak).


Imam Ibnu Katsir berkata, “(Keyakinan bahwa) orang-orang yang beriman akan melihat (wajah) Allah Ta’ala di akhirat nanti telah ditetapkan dalam hadits-hadits yang shahih, dari (banyak) jalur periwayatan yang (mencapai derajat) mutawatir, menurut para imam ahli hadits, sehingga mustahil untuk ditolak dan diingkari”[15].


Di antara hadits-hadits tersebut adalah dua hadits yang sudah kami sebutkan di atas. Demikian pula hadits yang diriwayatkan oleh Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian (Allah Ta’ala pada hari kiamat nanti) sebagaimana kalian melihat bulan purnama (dengan jelas), dan kalian tidak akan berdesak-desakan dalam waktu melihat-Nya…”[16].


Kerancuan dan Jawabannya


Demikian jelas dan gamblangnya keyakinan dan prinsip dasar Ahlus Sunnah wal Jama’ah ini, tapi bersamaan dengan itu beberapa kelompok sesat yang pemahamannya menyimpang dari jalan yang benar, seperti Jahmiyah dan Mu’tazilah, mereka mengingkari keyakinan yang agung ini, dengan syubhat-syubhat (kerancuan) yang mereka sandarkan kepada dalil (argumentasi) dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang kemudian mereka selewengkan artinya sesuai dengan hawa nafsu mereka.


Akan tetapi, kalau kita renungkan dengan seksama, kita akan dapati bahwa semua dalil (argumentasi) dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mereka gunakan untuk membela kebatilan dan kesesatan mereka, pada hakikatnya justru merupakan dalil untuk menyanggah kebatilan mereka dan bukan untuk mendukungnya[17].


Di antara sybhat-syubhat mereka tersebut adalah:


1- Mereka berdalih dengan firman Allah Ta’ala,


{وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ}


“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabb telah berfirman (langsung kepadanya), berkatalah Musa:”Ya Rabbku, nampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu”. Allah berfirman:”Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya (seperti sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata:”Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang pertama-tama beriman” (QS al-A’raaf:143).


Mereka mengatakan bahwa dalam ayat ini Allah menolak permintaan nabi Musa ‘alaihis salam untuk melihat-Nya dengan menggunakan kata “lan” yang berarti penafian selama-lamanya, ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala tidak akan mungkin bisa dilihat selama-lamanya[18].


Jawaban atas syubhat ini:


– Ucapan mereka bahwa kata “lan” berarti penafian selama-lamanya, adalah pengakuan tanpa dalil dan bukti, karena ini bertentangan dengan penjelasan para ulama ahli bahasa arab.


Ibnu Malik, salah seorang ulama ahli tata bahasa Arab, berkata dalam syairnya:


Barangsiapa yang beranggapan bahwa (kata) “lan” berarti penafian selama-lamanya


Maka tolaklah pendapat ini dan ambillah pendapat selainnya[19]


Maka makna yang benar dari ayat ini adalah bahwa Allah Ta’ala menolak permintaan nabi Musa ‘alaihis salam tersebut sewaktu di dunia, karena memang tidak ada seorangpun yang bisa melihat-Nya di dunia. Adapun di akhirat nanti maka Allah Ta’ala akan memudahkan hal itu bagi orang-orang yang beriman[20]. Sebagaimana hal ini ditunjukkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ketahuilah, tidak ada seorangpun di antara kamu yang (bisa) melihat Rabb-nya (Allah) Ta’ala sampai dia mati (di akhirat nanti)”[21].


Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu: Apakah engkau telah melihat Rabb-mu (Allah Ta’ala)? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Dia terhalangi dengan hijab) cahaya, maka bagaimana aku (bisa) melihat-Nya?”[22]. Oleh karena itulah, Ummul mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Barangsiapa yang menyangka bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melihat Rabb-nya (Allah Ta’ala) maka sungguh dia telah melakukan kedustaan yang besar atas (nama) Allah” [23].


– Permintaan nabi Musa ‘alaihis salam dalam ayat ini untuk melihat Allah Ta’ala justru menunjukkan bahwa Allah Ta’ala mungkin untuk dilihat, karena tidak mungkin seorang hamba yang mulia dan shaleh seperti nabi Musa ‘alaihis salam meminta sesuatu yang mustahil terjadi dan melampaui batas, apalagi dalam hal yang berhubungan dengan hak Allah Ta’ala. Karena permintaan sesuatu yang mustahil dan melampaui batas, apalagi dalam hal yang berhubungan dengan hak Allah Ta’ala hanyalah dilakukan oleh orang yang bodoh dan tidak mengenal Rabb-nya, dan nabi Musa ‘alaihis salam terlalu mulia dan agung untuk disifati seperti itu, bahkan beliau adalah termasuk nabi Allah Ta’ala yang mulia dan hamba-Nya yang paling mengenal-Nya[24].


Maka jelaslah bahwa ayat yang mereka jadikan sandaran ini, pada hakikatnya jutru merupakan dalil untuk menyanggah kesesatan mereka dan bukan mendukungnya.


2- Mereka berdalih dengan firman Allah Ta’ala,


{لا تُدْرِكُهُ الأبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الأبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ}


“Dia tidak dapat dicapai (diliputi) oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (QS al-An’aam:103).


Jawaban atas syubhat ini:


– Sebagian dari para ulama salaf ada yang menafsirkan ayat ini: “Dia tidak dapat dicapai (diliputi) oleh penglihatan mata di dunia ini, sedangkan di akhirat nanti pandangan mata (orang-orang yang beriman) bisa melihatnya[25].


– Dalam ayat ini Allah Ta’ala hanya menafikan al-idraak yang berarti al-ihaathah (meliputi/melihat secara keseluruhan), sedangkan melihat tidak sama dengan meliputi[26], bukankan manusia bisa melihat matahari di siang hari tapi dia tidak bisa meliputinya secara keseluruhan?[27]


– al-Idraak (meliputi/melihat secara keseluruhan) artinya lebih khusus dari pada ar-ru’yah (melihat), maka dengan dinafikannya al-Idraak menunjukkan adanya ar-ru’yah­ (melihat Allah Ta’ala), karena penafian sesuatu yang lebih khusus menunjukkan tetap dan adanya sesuatu yang lebih umum[28].


Sekali lagi ini membuktikan bahwa ayat yang mereka jadikan sandaran ini, pada hakikatnya jutru merupakan dalil untuk menyanggah kesesatan mereka dan bukan mendukungnya.


Penutup


Demikianlah penjelasan ringkas tentang salah satu keyakinan dan prinsip dasar Ahlus sunnah wal jama’ah yang agung, melihat wajah Allah Ta’ala. Dengan memahami dan mengimani masalah ini dengan benar, maka peluang kita untuk mendapatkan anugrah dan kenikmatan tersebut akan semakin besar, dengan rahmat dan karunia-Nya.


Adapun orang-orang yang tidak memahaminya dengan benar, apalagi mengingkarinya, maka mereka sangat terancam untuk terhalangi dari mendapatkan kemuliaan dan anugrah tersebut, minimal akan berkurang kesempurnaannya, na’uudzu billahi min dzaalik.


Dalam hal ini salah seorang ulama salaf berkata: “Barangsiapa yang mendustakan (mengingkari) suatu kemuliaan, maka dia tidak akan mendapatkan kemuliaan tersebut”[29].


Akhirnya kami berdoa kepada Allah Ta’ala dengan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas:


Aku meminta kepada-Mu (ya Allah) kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti)


dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia)


وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين


Kota Kendari, 12 Rabi’ul awwal 1431 H


Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA


Artikel www.muslim.or.id

[1] Kitab “Ushuulus sunnah” (hal. 23, cet. Daarul manaar, Arab Saudi).



[2] Beliau adalah imam besar, ahli fikih dan murid senior imam asy-Syafi’i (wafat 264 H). Biografi beliau dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (12/493).


[3] Kitab “Syarhus sunnah” tulisan al-Muzani (hal. 82, cet. Maktabatul gurabaa’ al-atsariyyah, Madinah).


[4] Beliau adalah Ahmad bin Muhammad bin Salaamah, imam besar dan penghafal hadits Rasulullah r (wafat 321 H). Biografi beliau dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (27/15).


[5] Kitab “Syarhul aqiidatith thahaawiyyah” (hal. 188-189, cet. Ad-Daarul Islaami, Yordania).


[6] Lihat keterangan syaikh al-‘Utsaimin dalam kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/448).


[7] Lihat keterangan syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal.899).


[8] Lihat kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/452).


[9] HSR Muslim dalam “Shahih Muslim” (no. 181).


[10] Lihat kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/453).


[11] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (4/262).


[12] Hal. 70-71 dan hal. 79 (Mawaaridul amaan, cet. Daar Ibnil Jauzi, Ad Dammaam, 1415 H).


[13] HR An Nasa-i dalam “As Sunan” (3/54 dan 3/55), Imam Ahmad dalam “Al Musnad” (4/264), Ibnu Hibban dalam “Shahihnya” (no. 1971) dan Al Hakim dalam “Al Mustadrak” (no. 1900), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al Hakim, disepakati oleh Adz Dzahabi dan Syaikh Al Albani dalam “Zhilaalul jannah fii takhriijis sunnah” (no. 424).


[14] Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam “Haadil arwaah” (hal. 201) dan Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (8/351).


[15] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (8/279).


[16] HSR al-Bukhari (no. 529) dan Muslim (no. 633).


[17] Lihat keterangan syaikh al-‘Utsaimin dalam kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/457).


[18] Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/469) dan “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/455).


[19] Dinukil oleh syaikh al-‘Utsaimin kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/456).


[20] Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 302) dan “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/456).


[21] HSR Muslim (no. 169).


[22] HSR Muslim (no. 291). waashithiyyah” (1/457).


[25] Tafsir Ibnu Katsir (3l310).


[26] Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3l310).


[27] Lihat kitab “syarhul ‘aqiidatil waashithiyyah” (1/457).


[28] Ibid.


[29] Dinukil oleh imam Ibnu Katsir dalam kitab “An Nihayah fiil fitani wal malaahim” (hal. 127).





Sumber: http://muslim.or.id/2343-memandang-wajah-allah-kenikmatan-tertinggi-di-akhirat.html

MENGAPA SELALU ADA MASALAH??

Susah untuk mendapat yang diinginkan? Hidup susah? Hidup miskin?  Itu semua merupakan pertanyaan dasar seorang manusia yang ingin mendapatkan kekayaan . Padahal pada hakikatnya , jika kita mensyukuri apa yang ada di depan kita , maka kita telah menjadi orang terkaya di Dunia ini.

Video berikut akan menjelaskan , Mengapa hidup penuh dengan Masalah? Silahkan tonton :)





Jadi kesimpulannya , kita tahu bahwa " ALLAH memberikan apa yang kita butuhkan , bukan apa yang kita inginkan ". Hanya bersyukur lah yang dapat menjauhkan kita dari kekecewaan hidup .

Semoga artikel ini bermanfaat

Blog Archive

Powered by Blogger.

Visitor

Flag Counter